Satu Minggu Tanpa Social Media


Assalamu’alaikum teman-teman,

Pernah merasa jenuh atau terganggu dengan social media? Atau bahkan dengan internet? Ah rasanya saya rindu dengan masa-masa bermain kelereng, petak umpet, dan permainan sejenisnya. Saat itu internet memang masih cukup susah didapatkan. Harus pergi ke warnet untuk dapatkan internet.

Dalam seminggu ini saya off-kan akun Facebook dan Instagram. Tapi saya masih aktif berkomunikasi secara online melalui beberapa messenger. Yang menyebalkan sekarang, beberapa messenger sekarang ada unsur untuk update statusnya. Ya, lalu apa bedanya dengan social media. Akhirnya yang dilakukan harus menahan diri. Oke bicarakan Facebook dan Instagram, karena kedua social media ini yang mampu buat saya ketagihan untuk membuka dan scroll timeline sampai habis (padahal gak pernah ketemu habisnya). Ada berbagai macam hal yang saya temukan pada timeline Facebook dan Instagram. Meskipun timeline social media tergantung pada teman-teman yang kita follow dan alhamdulillah semua posting dari teman-teman juga banyak yang bermanfaat tetapi tetap saja yang namanya social media seperti Pisau Bermata Dua. Munafik rasanya jika kita merasa ingin update status atau posting hal-hal yang justru bisa membuat kita menjadi riya’ dan sombong. Ya, secara tidak langsung. Perlahan-lahan hati kita, jiwa kita, nafsu kita rasanya sulit untuk menahan rasa ingin berbagi kegiatan dan kenikmatan ke social media.

Hal ini saya alami dalam beberapa bulan terakhir, semenjak saya merasakan begitu luar biasanya efek dibalik fitur like, view, love ataupun interaksi lainnya. Jangan-jangan kita berbagi hal-hal bermanfaat untuk mendapat pujian? untuk mendapatkan like dan follower yang banyak? Astaghfirullah. Memang semua tergantung niat kita. Niat karena Allah, atau niat karena ingin mendapatkan pujian dari sesama manusia.

Ketika kita sedang makan, kita foto dan posting ke social media milik kita. Apa yang terjadi? Apa manfaatnya? Biar orang lain tau kita makan apa hari ini? Atau agar orang tau kegiatan apa aja kita hari ini? Oke, setiap orang punya pendapat masing-masing akan hal ini. Ini opini saya. Selain itu masih banyak lagi sesuatu hal yang awalnya baik dan bisa dibilang rezeki bagi kita kemudian kita share ke social media yang mungkin dengan niat iseng. Lalu apakah orang-orang yang melihat postingan kita tidak merasakan sesuatu? Merasa iri mungkin, atau bahkan bisa jadi merasa termotivasi. Bisa jadi juga kita mendapatkan pujian. Meskipun niat kita bukan untuk mendapat pujian.

Ketika sedang liburan atau mungkin pergi ke suatu tempat yang membuat kita merasa bahagia. Kita anggap ini sebuah kenikmatan rezeki atas waktu dan kesempatan yang diberikanNya. Kemudian kegiatan ini kita share di social media. Apakah tidak akan menimbulkan sikap iri pada orang yang melihatnya? Dan berapa like/view yang akan kita dapatkan? Oh tidak, ternyata niat awal kita share ke social media bukan untuk itu. Tapi untuk menyimpan momen-momen berharga kita selama ini. Lalu pertanyaan, apakah tidak lebih baik disimpan secara pribadi? Daripada dilihat oleh banyak orang. Orang-orang yang suka stalking kamu.

Meskipun begitu, opini saya diatas tidak bisa kita hindarkan. Pasti terjadi. Ya, pasti terjadi pada diri kita masing-masing. Mungkin saat ini belum, tapi suatu saat nanti kita akan merasakan posting sesuatu ke social media kita masing-masing dengan pemikiran “Ini bermanfaat atau tidak ya?”. Kita yang harus membatasi diri, membatasi nafsu untuk berbagi kenikmatan sehingga orang lain tau kenikmatan kita dan menimbulkan sesuatu yang buruk dihatinya. Saya lakukan off social media dalam seminggu ini tidak begitu membantu untuk terhindar dari semua ini. Iman, ya Iman kita masing-masing kepada Allah yang akan menjadi tameng di dunia dan akhirat nanti.

Kita tetap butuh social media untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat, meskipun tidak jarang kita juga melihat informasi yang tidak kita inginkan. Kita harus pandai-pandai filter informasi yang kita baca maupun yang akan kita share ke timeline teman-teman.

Oke, jadi kita lebih baik yang membatasi diri saat ber-social media ria daripada kita menghindar dari social media. Kita gunakan social media sebaik-baiknya. Menjadi salah satu alat yang bisa meningkatkan semangat dan motivasi dalam belajar. Berbagi hal yang bermanfaat ke sesama.

Mungkin saat ini kita bisa menahan, tapi nanti tidak ada yang bisa memastikan seberapa kuat Keimanan kita. Yang tau hanya diri kita masing-masing dengan Allah.

Sekali lagi, ini semua hanya opini saya.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum.

Man Jadda Wajada

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

About me

Garry Priambudi

Garry Priambudi

Menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dan tetap istiqomah berbagi ilmu kepada sesama. Semangat!

Contact Us

Feel free to discussion with me about technology or projects :)

Sidoarjo, Indonesia

+6281232009362

Instagram

Instagram
Instagram
Instagram
Instagram
Instagram
Instagram