Melawan Arus Kehidupan


Jika hidup hanya mengikuti arus, sesungguhnya hanya ikan mati yang ikut kemana air mengalir, dan itu berarti menuju tempat yg rendah. – Ary Ginanjar Agustian

Saat pertengahan tahun 2015 setelah merasakan lagi seram dan bikin berdebarnya UN. Lega rasanya setelah melewati UN saat itu, hanya tinggal menunggu kabar kelulusan. Uniknya, kabar kelulusan akan diumumkan oleh pihak sekolahan. Jadi jika salah satu guru datang ke rumah saya, berarti saya dinyatakan tidak lulus. Alhamdulillah pada hari itu tidak ada guru yang datang ke rumah saya, ya mungkin karena jalan masuk ke rumah saya ditutup ada kegiatan warga atau jalan raya macet? tapi sudahlah, saya ikhlas apapun hasilnya. Esok harinya datang ke sekolah untuk memastikan bahwa lulus dan mendapat nilai yang terbilang cukup bagus. Iya, karena saya tidak terlalu pandai dalam hal akademis. Bahkan saat UN berlangsung saya masih sempat menyibukkan diri di depan laptop melakukan aktifitas koding.

Setelah semua siswa-siswi dinyatakan lulus, pada saat itu semua bingung menentukan antara kuliah atau kerja? kalaupun sudah menemukan jawaban dari salah satu pilih tersebut, akan muncul pertanyaan lagi “Kuliah dimana?” atau “Kerja dimana/apa?”. Bukan hal mudah untuk membuat sebuah keputusan yang akan mengubah masa depan kita. Tapi ya kok ada aja yang merasa “Belum tau, pokoknya jalani saja”. Oke jujur saja, pada saat mendengar perkataan seperti itu saya selalu memikirkan diri sendiri “Apakah saya yakin dengan pilihan ini?”. Bagaimana tidak, saya sudah memutuskan untuk menekuni hobi sambil mempelajari sebuah bisnis yang sesuai dengan hobi. Pada awal tahun 2015 saya menemukan lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, saya mencoba melamar dengan niat ingin menambah wawasan dan pengalaman dibidang yang saya tekuni ini. Setelah menunggu beberapa minggu, alhamdulillah akhirnya mendapatkan panggilan interview. Datang kesana, dan mengobrol ringan setelah itu baru ke urusan bisnis. Beliau kaget, dikiranya saya sudah lulus sekolah. Kok berani-beraninya anak ingusan seperti saya ini ikut melamar lowongan pekerjaannya di bagian Theme Wordpress Developer. Saya sendiri dengan yakinbermodal tekad, pengetahuan yang pas-pasan dan beberapa hasil karya yang bisa saya tunjukkan.
11283243_467614623396838_952957303_n
Di terima maupun tidak, setidaknya saya bisa dikenal bahwa saya ada dan saya mampu. Oke singkatnya saya diterima kerja kontrak selama beberapa bulan dan memang saya minta kerja part time atau bekerja paruh waktu. Datang ke kantor kalau ada maunya saja, eh maksudnya kalau ada meeting project saja hehe.

Sekolah sambil Bekerja, bisa dibilang begitu pada awal-awal tahun 2015 sebelum UN. Sebenarnya dalam kondisi saya saat itu rasanya bukan Bekerja, tapi Belajar yang dibayar. Gitu. 😀
Nah dari saya tau rasanya berpenghasilan sendiri akhirnya ya sampai sekarang tetap berusaha untuk berkembang terus. Mengambil dari pengalaman teman-teman sekelas yang kerja pokoknya kerja, yang kuliah pokoknya kuliah belum tau apa yang ingin dicapai, belum tau target kesuksesan dalam hidup. Kalau target hidup ingin kaya “tapi kaya seperti apa?”, setidaknya ada target visi dan misi hidup. Saya tidak ingin sok menggurui, tapi saya sendiri belajar dari beberapa teman yang memang punya integritas dalam mewujudkan impiannya. Saya belajar bahwa sesuatu di masa depan nan jauh disana perlu kita rencanakan dari awal agar terarah, ya meskipun kita tau bahwa bukan kita yang menentukan dan merencanakan segala hal di dunia ini ada Allah Yang Maha Besar. Dan perlu disadari diawal tidak semua rencana yang kita impikan diawal akan terwujud, tapi setidaknya Allah memiliki rencana yang lebih baik untuk kita karena kita sudah berencana untuk menuju kebaikan. Lalu bagaimana jika kita hidup tapi tidak merencanakan suatu tujuan untuk menuju kebaikan? ya tentu, saya juga memiliki impian untuk masuk Surga. Tapi itu visi dan kita butuh misi untuk mewujudkan impian tersebut. Jadi seperti itu lah opini saya.

Bagi adik-adik yang sudah lulus atau akan lulus, kita perlu menentukan tujuan untuk  langkah selanjutnya. Hal yang tidak mudah memang, perlu belajar dari orangtua atau mungkin guru yang bisa kita percaya dari segi pengalaman hidupnya. Saya pribadi sudah memiliki target berdasarkan umur setiap bertambah 1 tahun.

Jadi, kapan menikah?
#selfreminder

Man Jadda Wajada

You may also like

Bertahan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rating*

About me

Garry Priambudi

Garry Priambudi

Menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dan tetap istiqomah berbagi ilmu kepada sesama. Semangat!

Contact Us

Feel free to discussion with me about technology or projects :)

Sidoarjo, Indonesia

+6281232009362

Instagram

Instagram
Instagram
Instagram
Instagram
Instagram
Instagram