Mari Kita Level Up!


Bicara tentang belajar akan panjang ceritanya. Tapi ada satu hal yang saya dapatkan dari beberapa teman secara langsung dan dari pengalaman pribadi. Masih sangat ingat, 3 tahun yang lalu saya tidak berani berbicara di depan orang, sulit menyampaikan apa yang ada di otak, dan canggung tentang sosialisasi serta berteman. Lebih suka menyendiri, melakukan kegiatan yang hanya mengetik di depan layar tanpa berbicara dan tanpa dilihat orang.

Ternyata… semua berubah ketika kenal yang namanya Entrepreneur, ya menjadi seorang Pengusaha pada saat itu terinspirasi dari salah satu CEO di kota Malang yang kebetulan juga menjadi juri di lomba yang saya ikuti 3 tahun lalu. Dari titik itu saya suka belajar dan stalking tentang CEO tersebut, sampai nemu personal blognya. Hebat ya beliau…

Sampailah saya menyadari bahwa Hablum Minannas itu salah sati hal yang penting untuk mencapai kesuksesan. Ya mungkin bisa kita lakukan dengan berbagi ilmu, menebar kebaikan dan manfaat, masih banyak kebaikan lainnya. Akhirnya saya belajar bagaimana caranya presentasi di depan orang, cara berkomunikasi yang baik dan sopan, cara bersosialisasi. Nah 3 poin ini ingin saya bagikan pengalaman saya ke teman-teman.

1. Presentasi

Susah ternyata yaa, setelah mencoba memulai presentasi di depan teman-teman sendiri pada waktu itu. Rasanya campur aduk. Grogi, gugup, bingung harus gerak tubuh gimana, menegangkan banget, dan lalala banyak lagi yang saya rasakan awal-awal belajar presentasi. Ah itu mah 3 tahun yang lalu ya, Alhamdulillah sekarang sudah bisa mengajak teman-teman dan berbagi di salah satu komunitas di kota Sidoarjo untuk giat belajar mengembangkan Softskill salah satunya yaa ini, presentasi.

2. Berkomunikasi

Kalau di ingat-ingat, rasanya ingin ketawa sendiri (wkwkw). Jaman masih SMP, ngomong Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu susah banget. Ya meskipun ada mata pelajarannya, tapi saat berkomunikasi langsung dengan orang lain masih sulit mengucapkan pakai Bahasa Indonesia. Maklumlah dari lahir di ajarinnya pakai Bahasa Jawa, jadi terbawa sampai mau beranjak remaja. Tapi sekarang bagaimana? Pesat rasanya berkembang cara komunikasi yang saya dapatkan selama 3 tahun ini. Akhirnya saya terapkan juga dalam bentuk teks dengan mengusahakan untuk tidak lagi menggunakan singkatan, berusaha mengucapkan, melafalkan dan menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Oh iya, lalu bagaimana dengan kesopanan? Ya ini mah tergantung kepada siapa lawan bicara kita. Waktu awal-awal masih sulit untuk mengucapkan kata “Saya” masih lebih terbiasa dengan kata “Aku”. Yang akhirnya harus memaksakan diri belajar mengucapkan kata “Saya” yang lebih tepat agar berkesan lebih sopan, Alhamdulillah saya yakin kita bisa karena terbiasa.

3. Sosialisasi

Nah ini nih, yang kadang bikin greget. Sampai sekarang masih merasa minim banget kemampuan tentang bersosialisasi. Khususnya dengan orang yang baru kenal, eh atau mau kenalan dengan teman baru (teman yaa, t e m a n.). Tapi masih mendingan karena mau berbaur dengan masyarakat atau orang-orang sekitar. Mungkin teman-teman bisa memulai belajar dengan mendatangi atau mengikuti acara seminar/workshop dan kalau bisa berangkatnya sendirian, jangan ajak teman. Kenapa? karena kalau dari pengalaman saya, ketika kita sendirian berada di lingkungan baru kita pasti berusaha secara spontan untuk berbaur. Misal “mas, acaranya nanti selesai jam berapa ya?”, atau mungkin “mbak, salam kenal”. Bisa jadi ketemu jodoh disana, hoho. Pokoknya, jangan ajak teman. Lebih baik sendirian saja. Gitu.

Tentang Level Up! itu bukan sekedar kita belajar untuk diri sendiri, tapi bagaimana caranya agar kita belajar dan berbagi kebaikan dalam bentuk apapun. Pernah saya lihat sebuah film pendek tentang pemuda yang ingin memantaskan diri dengan menantang diri sendiri agar bisa sholat subuh jamaah di masjid selama 40 hari tanpa putus. Tapi akhirnya terputus karena telat sholat subuh jamaah di masjid, penyebabnya ternyata karena membangunkan teman kostnya untuk diajak sholat jamaah di masjid. Nah ini nih, yang namanya Level Up!

Lho kok bisa? kan gagal memenuhi 40 hari sholat subuh jamaah di masjid tanpa putus. Kalau dari pengalaman pribadi dan cerita pengalaman teman saya tentang Level Up! ini mengajarkan tentang betapa penting kita bisa naik level diluar harapan berhasil atau gagal mencapai sesuatu. Yang penting Level Up!, gitu. Terus hubungannya apa? Hubungannya adalah suami istri, lho kita harus berani mencoba dan menantang diri sendiri untuk meningkatkan kualitas pribadi tanpa mementingkan berhasil ataupun gagal, karena pada hakikatnya (eaaa) berhasil dan gagal kita tetap mendapakan satu hal, Pengalaman.

Jadi gitu, sebagai kutipan terakhir dari teman saya

“Gagal menjadi juara F1 di tingkat Internasional lebih baik daripada berhasil menjadi juara satu F1 di tingkat nasional.” – Refrian Hadinata

Yuk senantiasa meningkatkan kualitas diri dan selalu memantaskan diri. 🙂

Man Jadda Wajada

LEAVE A COMMENT

About me

Garry Priambudi

Garry Priambudi

Menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain dan tetap istiqomah berbagi ilmu kepada sesama. Semangat!

Contact Us

Feel free to discussion with me about technology or projects :)

Sidoarjo, Indonesia

+6281232009362

Instagram

Instagram
Instagram
Instagram
Instagram
Instagram
Instagram